Kepemimpinannya Adalah Penaklukan, Hijrahnya Adalah Kemenangan, Keteladanannya Adalah Rahmat, Download Gratis Film Umar Bin Khattab 30 Episode di sini http://omar.collectionfree.com

UMAR DI MASA JAHILIAHNYA ( Tempat hiburan )

0 comments

Tempat hiburan

Tak lama kemudian matahari pun mulai bergeser ke tempat peraduannya. Orang ramai pun sudah mulai pergi, masing-masing kembali ke tempatnya. Umar berjalan terus masuk ke dalam pasar diikuti teman teman pengagumnya, dan dibalas Umar dengan senyum, senyum yang jarang sekali mereka lihat memalut wajah laki-laki itu. Senyum demikian tidak hanya untuk teman-temannya. Ketika ia lalu di depan orang banyak dilihatnya mereka juga memandang bangga kepadanya; gadisgadis pun saling berebut ingin mendapat kesempatan kalau-kalau tertangkap pandangan matanya atau akan jatuh cinta melihat paras yang elok.  Hatinya merasa lega dan semua ini terpantul dalam senyumnya itu.

Begitu malam tiba diajaknya teman-temannya singgah di tempat hiburan yang terdapat di sisi pasar. Di belakang pasar itu membentang padang Sahara sejauh mata memandang. Umar mencari tempat terdekat ke Sahara. Setelah mengucapkan selamat malam kepada orang-orang yang dikenalnya saat ia lalu di depan mereka, mereka juga membalas salamnya disertai rasa kagum dan bangga. Seorang gadis pelayan warung bertubuh ramping melangkah gontai dengan pandangan mata dan senyum merekah di bibir memperlihatkan seuntai giginya yang manis, yang hanya tertuju kepada pemuda yang telah berjaya itu.



Dalam percakapannya dengan gadis itu Umar memperlihatkan sikap begitu lembut, yang sejak pasar ada tak pernah terlihat demikian. Tak lama setelah itu ia kembali datang lagi membawa khamar (minuman keras) yang sudah cukup matang untuk para pelanggan yang setia, yang selama pekan pasar setiap malam selalu datang ke warung itu. Di tengah-tengah teman-temannya Umar paling banyak minum dibandingkan mereka. Sampai jauh malam pemuda-pemuda masih asyik minumminum dan bergadang, hanyut mengobrol, dari soal yang bersungguhsungguh sampai ke soal remeh, dari soal mencumbu perempuan sampai ke soal menunggang kuda, dari cerita-cerita petualangan sampai ke soal silsilah. Pengetahuan Umar dalam soal ini memang cukup banyak, ditambah lagi dengan minuman khamar dan kemenangannya bertarung melawan pemuda pedalaman tadi lidahnya makin lancar. Sementara mereka sedang bercakap-cakap demikian samar-samar dilihatnya seorang penunggang kuda sedang memacu kudanya cepat-cepat. Umar berteriak:

"Demi Lat dan Uzza, sungguh kagum aku melihat kepandaiannya
menunggang kuda itu!"
Temannya yang tadi mengajaknya berbicara mengenai pemuda
pegulat itu tersenyum.
"Semoga Uzza mengampuni sepupumu Zaid bin Amr yang berkata
dalam syairnya:
Tak ada Uzza maupun kedua putrinya yang kupercayai
Tak ada berhala-berhala Banu Tasm yang kuikuti
Adakah satu Tuhan yang kuanut ataukah seribu tuhan
Apabila masalahnya sudah terpilah-pilah?"
Mendengar itu wajah Umar berubah jadi masam, merengut.
"Celaka dia!" katanya. "Dia sudah ingkar. Uzza tidak akan mengampuninya!

Tindakan Khattab tepat sekali mengusir kemenakannya itu dari Mekah dan tak dibolehkan lagi memasuki Mekah setelah ia memnggalkan agama kita, memusuhi berhala-berhala kita dan mencari tuhan lain dalam agama Yahudi dan Nasrani, tetapi karena dari keduanya tidak berhasil ia mengira ada dalam agama Ibrahim nenek moyangnya. Kalau diserahkan kepadaku niscaya kubantai dia."

Pembicaraan kemudian beralih ke soal-soal yang mereka kira dapat menenangkan perasaan. Sementara mereka sedang bergadang itu tibatiba terdengar suara-suara lembut dari gadis-gadis yang keluar dari kemah ke padang sahara. Mereka sedang menikmati bisikan malam atau sedang mau menunaikan segala keperluannya. Umar menahan bicaranya, seolah terpengaruh oleh suara-suara itu. Sesudah teman-temannya diam, mereka mengalihkan pandangan kepadanya. la sudah siap berdiri seraya berkata: Aku ada keperluan; akan kutinggalkan kalian sebentar dan akan segera kembali lagi. Mereka tersenyum. Memang, kesenangannya mendekati perempuan, sama dengan kesenangannya meminum khamar. Umar menuju ke arah datangnya suara lembut itu. la mendengar suara biduanita berkata kepada teman-temannya:
Lihat, itu Umar sedang menuju ke tempat kita; kita berpura-pura lari karena takut dibantingnya. Sesudah kemudian Umar berada di dekat mereka, memang, masing-masing mereka berpura-pura lari dengan terpencar- pencar. Yang masih tinggal hanya si penyanyi; ia menjatuhkan kerudungnya dan berpura-pura sedang membetulkannya. Umar segera mengenalnya, yang beberapa hari yang lalu mereka sudah pernah berjumpa. Selama pekan Ukaz tahun ini saat itulah yang dirasakannya paling bahagia. Teman-teman penyanyi itu sudah mengerti tipu dayanya. Mereka tertawa melengking, marah bercampur ejekan dan rasa cemburu-.

Umar kembali ke tempat teman-temannya seperti dijanjikannya tadi. Tak lama di tempat itu, sesudah membayar kepada pelayan harga minuman yang mereka tenggak, ia pergi meninggalkan teman-temannya. Hari sudah hampir siang ketika Umar bertemu lagi dengan sahabatsahabatnya itu. Mereka sedang bercerita mengenai kemahiran Umar yang diperlihatkan dalam beradu gulat kemarin. Mereka sangat mengharapkan Umar akan mau bergulat lagi dengan lawannya itu sehingga benar-benar dapat membantingnya, supaya sesudah itu pemuda pedalaman itu tidak lagi bisa berlagak di lapangan gulat. Tetapi Umar tidak sependapat dengan mereka, karena yang demikian dianggapnya tidak kesatria. Dia yang sudah menang, apabila yang mengajak bergulat lawannya untuk membalas kekalahannya, ia tak akan mundur. Tetapi dia sendiri tak akan memulai mengajaknya bertarung dan tidak akan menantangnya. Pekan pasar sudah hampir selesai. Sesudah tiga hari orang akan meninggalkan Ukaz dan akan pergi ke Majannah untuk bersiap-siap melakukan tawaf ke Ka'bah, dan masing-masing kabilah akan menyembelih kurban untuk berhala-berhala mereka. Kalau sudah menyembelih hewan mereka akan pergi ke Zul-Majaz untuk mendapatkan air sebelum naik ke Arafah. 

Selama tiga hari sebelum di Majannah orang sudah disibukkan oleh segala persiapan untuk melakukan ziarah, bukan untuk bergulat dan bertarung. Tiga hari itu sudah berlalu, pemuda desa itu pun sudah menyerah
dengan apa yang sudah dialaminya, setelah dilihatnya Umar memang bukan tandingannya. Orang pun sudah berkemas hendak meninggalkan Ukaz, dan Umar yang paling pertama mengadakan persiapan demikian.
Menjelang tengah hari budaknya sudah menyiapkan kudanya. Melihat warna kuda itu yang hitam pekat, kedua telinganya yang kecil dan kepala tegak dengan kedua kakinya yang kukuh dan perutnya yang ramping, serta sikap Umar yang penuh percaya diri dan bangga akan kudanya — pemuda-pemuda yang berasal dari pelbagai kabilah terkemuka itu seolah iri hati. Mereka mengajaknya berlomba dengan berpacu. Apabila pacuan kuda selesai dan beristirahat, mereka turun ke Majannah sesudah tidur tengah hari sebentar.
Ajakan itu disambut oleh Umar dan mereka pun sudah siap dengan kuda yang a'kan diperlombakan. Sekarang mereka pergi ke padang Sahara dan mencari arena tempat berpacu. Setelah siap di atas kuda masing-masing dan pemandu memberikan aba-aba, secepat itu pula Umar dan kudanya seperti sudah menyatu melesat secepat kilat, sehingga penonton sudah tak tahu lagi kuda yang dipacu itu di atas tanah atau terbang di angkasa. Kemenangan Umar dalam pacuan kuda ini mengundang kekaguman orang di pasar seperti ketika kemenangannya dalam bergulat. Gadis-gadis pun tidak hanya sekadar kagum, mereka sudah hanyut terpengaruh begitu jauh. Penyanyi yang tahun ini memberinya kenangan begitu manis di Ukaz hanya tersenyum, senyum yang menimbulkan rasa cemburu kawan-kawannya yang lain. Mereka meliriknya dengan mata Arabnya barangkali seperti dalam sajak yang diungkapkan penyair Umar bin Abi Rabi'ah: Karena perasaan dengki yang menyelimuti mereka Dahulu orang memang penuh dengki.

Penulis :Muhammad Husain Haekal

Share this article :
 
TEMPLATE ASWAJA| Umar Bin Khattab - All Rights Reserved