Kepemimpinannya Adalah Penaklukan, Hijrahnya Adalah Kemenangan, Keteladanannya Adalah Rahmat, Download Gratis Film Umar Bin Khattab 30 Episode di sini http://omar.collectionfree.com

Dugaan Tulaihah menerima wahyu

0 comments

Cukup kiranya kalau kita baca apa yang katanya bahwa Tulaihah mendakwakan diri telah mendapat wahyu untuk membuat orang sangsi bahwa ada orang yang berdakwah demikian mendapat banyak pengikut, selanjutnya orang itu kemudian memegang peranan penting dalam Islam, yang masih dicatat oleh sejarah sebagai saksi tentang beberapa peristiwa perjuangan selama masa Umar bin Khattab. Di antara yang disebutkan oleh sumber-sumber tentang Tulaihah yang mendakwakan diri menerima wahyu itu kata-katanya ini (dalam bentuk sajak):
"Demi burung dara dan burung tekukur, demi burung pemangsa yang kelaparan, yang sudah diburu sebelummu beberapa tahun, raja kita pasti mengalahkan Irak dan Syam."

Kita sudah sering membaca mantra-mantra para dukun zaman jahiliah, dan semua itu masih kita ingat, bahwa Kuraisy memerangi Muhammad karena dia dikatakan seorang dukun dan bahwa yang diwahyukan kepadanya itu semacam mantra ini. Orang yang pernah hidup sezaman dengan Nabi sudah tahu benar, bahwa propaganda yang ditujukan kepada Qur'an itu omong kosong. Di samping itu, buat semua orang dan buat orang Arab jelas sekali sudah, bahwa Qur'an adalah mukjizat Muhammad, yang tidak mungkin — baik manusia ataupun jin akan mampu membuat serupa itu sekalipun mereka masing-masing saling tolong-menolong.

Tulaihah dulu memang seorang dukun, sama seperti juga Aswad. Tetapi adakah mantra yang katanya wahyu itu termasuk mantra para dukun? Kalaupun benar demikian, artinya dukun-dukun itu termasuk tukang-tukang sulap yang luar biasa, dan segala yang berasal dari mereka itu adalah suatu kearifan, maka itulah yang telah merendahkan makna kearifan.

Benar tidaknya kata-kata itu konon berasal dari Tulaihah, berarti kita diajak menyetujui pandangan yang dalam sejarah sendiri tak pernah ada catatannya yang berarti buat kita. Apa yang sudah diceritakan kepada kita, hanya bahwa dia tak dapat menerima adanya ketentuan rukuk dan sujud dalam salat, dan katanya bahwa Allah tidak menyuruh orang menyurukkan mukanya ke debu atau membungkukkan punggung dalam salat. Kalaupun apa yang dikaitkan kepadanya itu benar, barangkali itu diambil dari cara-cara sembahyang orang-orang Nasrani.

Sebenarnya penyebab sedikitnya peninggalan Tulaihah, Musailimah dan yang semacamnya itu yang sampai kepada kita, itu sama dengan penyebab sedikitnya pengetahuan kita tentang berhala-berhala itu. Kaum Muslimin yang mula-mula sudah membuangnya dan tidak pernah memikirkan akan mencatat atau menceritakan semua itn. Juga orang-orang yang datang kemudian tidak menganggap perlu, kecuali jika dapat memperkuat agama yang benar ini.

Sudah sama-sama kita ketahui bahwa yang dicatat oleh kaum Musliminpada permulaan sejarah Islam itu hanya usaha Abu Bakr dalam mengumpulkan Qur'an, sedang pengumpulan sunah dan hadis baru dilakukan sesudah abad pertama Hijri. Orang-orang yang telah bekerja untuk itu pun tidak sedikit mengalami kesulitan. Yang meringankan mereka hanya karena dengan itu mereka sangat mengharapkan pahala dari Allah.

Melihat keadaan yang demikian, tidak heran bila cerita-cerita tentang Tulaihah dan nabi-nabi palsu yang lain itu banyak yang kita sangsikan, apalagi kalau cerita-cerita itu tidak cocok dengan yang biasa dikenal mengenai tata nilai kehidupan orang Arab, di kota dan di pedalaman, dan tidak pula sejalan dengan segala peristiwa yang ada hubungannya dengan semua itu.

Di sadur dari buku : Abu Bakar
Share this article :
 
TEMPLATE ASWAJA| Umar Bin Khattab - All Rights Reserved